TRIBUNNEWS.COM-Bea Cukai dan TNI AL menandatangani kesepakatan kerja sama pada Kamis (07/09). Sinergi antara aparat penegak hukum kedua negara bukanlah yang pertama kali, pihak bea cukai dan pihak bea cukai saat ini menandatangani perjanjian kerjasama untuk meminjam dan menggunakan senapan mesin berat 12,7 mm. Kerja sama ini membuktikan bahwa pihak bea cukai dan angkatan laut memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga kedaulatan, penegakan hukum dan keamanan finansial perairan Indonesia.

Bahaduri Wijayanta Bekti Mukarta, Direktur Penegakan Hukum dan Penyidikan, mengungkapkan pinjaman SMB 12,7 mm yang diberikan TNI AL merupakan salah satu langkah bea cukai untuk kapal pabean bersenjata dan kapal patroli kargo, dengan tujuan untuk memperoleh wilayah laut dari Indonesia. “Meski demikian, senjata resmi bukanlah alat utama, tetapi pilihan terakhir untuk menghentikan penyelundupan kapal, atau hanya dalam situasi di mana pertahanan diri sangat dibutuhkan,” kata Vijayatan. Milik negara tetangga kita. -Misi berisiko tinggi m Untuk memastikan keamanan bea cukai dan kapal patroli saat memantau barang selundupan dan melakukan tugas lain, mereka harus mendukung peralatan pertahanan yang andal dan berkualitas, melindungi perbatasan, menegakkan hukum, dan berpartisipasi dalam pemeliharaan Wijayatan: “Negara Sovereignty.-Customs menyadari bahwa sinergi antar aparat penegak hukum sangat penting untuk penegakan hukum maritim.Setiap instansi yang berwenang dalam penegakan hukum memiliki tanggung jawab dan fungsi tertentu sesuai dengan regulasi-misalnya, bea cukai wajib berada di laut. Menegakkan hukum sebagai bagian dari pengamanan finansial atau potensi pendapatan fiskal nasional. Salah satu tugas TNI AL adalah menegakkan hukum di bidang pertahanan negara dan menjaga keamanan maritim. Yurisdiksi nasional ditetapkan sesuai dengan hukum nasional yang disetujui dan hukum internasional hingga Pada tanggal 1 Oktober 1946, Hindia Belanda ditetapkan sebagai Kustodian Badan OMS dan Cukai.

Beberapa dokumen sejarah terkait kerja sama antara pihak bea cukai dan TNI. Diantaranya, bea cukai adalah patroli maritim pertama di luar TNI AL. Pengorganisasian perahu yaitu ada 3 kapal patroli pada tahun 1953, dan kapal patroli tersebut turut serta mendukung operasi militer ABRI. Misalnya pasukan ABRI yang mendarat di Pekanbaru untuk mengalahkan PRRI / Permesta, menyapu bersih operasi Tumpas DI / TII Kahar Muzakar, di Sura Selatan Keinginan, operasi intelijen dan misi lainnya di Dwikora / konfrontasi dengan operasi Seroja di Malaysia dan Timor Leste. -Wijayanta mengungkapkan, bea cukai dan pajak konsumsi berharap sinergi dengan TNI akan terus efektif. Sebagai unit patroli pajak dan Mencegah masuknya barang berbahaya dapat memainkan peran terbaik. “(*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *