TRIBUNNEWS.COM-Dalam rangka menjadikan pengelolaan keuangan nasional transparan, Kantor Pabean Daerah Khusus Kepulauan Riau menyerahkan laporan tentang kinerja kuartal pertama 2020 Rabu lalu (04/08). Laporan kinerja pendapatan berisi hasil yang diperoleh di Kantor Pajak Konsumsi Khusus Daerah Kepulauan Riau, analisis tren dan pemantauan.

“Pada tahun fiskal 2019, total pendapatan kami adalah 1.866 miliar rupee, termasuk pajak impor, pajak ekspor dan pajak konsumsi dan pajak impor (PDRI). Pada kuartal pertama tahun fiskal 2020, kami mengumpulkan total pajak nasional 711 miliar rupee, ”kata Argus Uliantou, kepala Kantor Pabean Khusus Kepulauan Riau.

Dia juga merinci pendapatan yang dikumpulkan, termasuk pajak impor sebesar Rp 108 miliar. Di antaranya, pajak konsumsi adalah Rp 243 juta, pajak pertambahan nilai (PPN) adalah Rp 474 miliar, pajak bisnis mewah (PPNBM) Rp9,9 juta, pajak penghasilan impor (PPh) Rp125 miliar, dan pajak penghasilan ekspor (PPh) 850 juta. , PP PPN adalah 650 crore rupee. Juga menurut data Agus, nilai mata uang ekspor pada kuartal pertama 2020 adalah US $ 495 juta, yang lebih rendah dari nilai mata uang impor senilai US $ 507 juta, yang berarti bahwa neraca perdagangan memiliki defisit US $ 11 juta. “Produk ekspor terbesar adalah gas alam, dengan nilai transaksi US $ 336 juta. Perusahaan Pertamina, Medco E&P Natuna LTD dan Premier Oil Natuna Sea BV diekspor ke Kepulauan Riau dalam bentuk minyak mentah, dengan nilai transaksi 443. Dia menjelaskan ekspor itu Nilai total timah yang diekspor oleh Timah Tbk adalah 35 juta dolar AS, dan nilai total kelapa yang diekspor oleh perusahaan Indonesia Saricotama adalah 915.000 dolar AS.

Dalam hal pengawasan, Pada tahun fiskal 2019, Agus menggugat Kantor Pajak Konsumsi Khusus Regional Kepulauan Riau untuk 100 tuntutan hukum atas nilai barang. Bukti yang diperoleh bernilai 166 miliar rupee, yang dapat menyebabkan kerugian US $ 175 miliar ke negara tersebut.

“Pada kuartal pertama tahun fiskal 2020, kami mengambil 23 tindakan dalam hal regulasi. Kantor Operasi Khusus Kepulauan Riau berhasil menggagalkan salah satu operasi, yang merupakan penyelundupan 26 kg metamfetamin. Untuk semua jenis produk ilegal, negara ini dapat menderita kerugian total 56 miliar rupiah, seperti furnitur, minyak mentah, pelumas dan bahan bakar, kendaraan (kendaraan bermotor / tidak bermotor), suku cadang dan aksesori kendaraan, narkotika dan perintis mental (NPP) )), produk tembakau, minuman yang mengandung etanol, pengepres bola dan berbagai produk lainnya yang melanggar hukum pabean dan hukum cukai », pungkasnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *