TRIBUNNEWS.COM-Bea Cukai terus memperkuat berbagai tindakan pemberantasan rokok ilegal untuk membendung peredaran ilegalnya yang menghambat pengenaan pajak nasional. Namun, para pembuat rokok ilegal juga sama cepatnya. Saat menyiarkan berbagai jenis merek di Indonesia, model yang berbeda akan diterapkan.

Dalam keterangan yang dikeluarkan, Senin (14/9/2020), Padmoyo Tri Wikanto, Kepala Bea Cukai Daerah Istimewa Yogyakarta, mengatakan: Berdasarkan penelusuran UGM, peredaran rokok ilegal di seluruh negeri terus menurun. Ini mencapai 12,1% pada 2016 dan kemudian turun menjadi 7% pada 2018. Pabean juga menggunakan cara serupa untuk melakukan investigasi internal dan menemukan jumlah rokok ilegal yang beredar mencapai 10,9% pada 2017 dan turun menjadi 3% pada 2019. “Selain penegakan hukum, kami berharap pada penyidikan UGM tahun 2020 ini, jumlah rokok ilegal yang beredar akan berkurang kembali, yang sejalan dengan target Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani sekitar 1%,” ujarnya.

Mulai Januari 2020 hingga Agustus 2020, Bea Cukai DIY Jawa Tengah berhasil memastikan keamanan 32,5 juta batang rokok. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019, angka ini turun sebesar 30,68%, dan jumlah rokok ilegal yang berhasil disita mencapai 46,89 juta.

Kepala Penegakan Hukum dan Penyidikan Dinas Pabean Provinsi DIY yang berkedudukan di Moch. Arif Setijo Nugroho mengatakan banyak cara peredaran rokok ilegal.

“Sejauh menyangkut kegiatan ilegal, rokok kretek atau standalone dengan stempel cukai biasanya yang paling umum,” kata Arif. -Arif menambahkan pelanggaran lain, seperti menempelkan stempel pajak konsumsi, tetapi yang palsu menggunakan “jeempel” (kertas fotokopi, seolah-olah digunakan sebagai stempel pajak konsumsi), kemudian menggunakan stempel pajak konsumsi juga digunakan Tidak sesuai dengan ketentuan lainnya, misalnya penggunaan pita cukai 12 batang untuk 20 batang rokok, dan penggunaan pita cukai rokok kretek tangan (SKT) buatan tangan untuk 20 batang rokok kretek mesin (SKM), sehingga mengubah tarif kena pajak “dibayarkan. Ya, pasarannya sangat kecil, “jelas Arif. Rokok ini biasanya digunakan untuk membayar pakaian rokok, dan ada juga barang lain yang dikemas dalam bentuk rokok, seperti bingkai, dan ditempatkan di kotak palet. -Arif juga mengungkapkan akan memutus semua merk rokok yang sering beredar di pasaran, antara lain Red Luffman, Luffman, Luffman Silver, Coffee Stick, Luffman Light, Lilac Warehouse, Duuz, H Mind, Sakura dan Laris Brow. Jumlah merk lain juga sedikit, seperti L4 Bold, Sekar Madu SMD, Laris Brow, SMD, Mildboro, YS Pro Mild, Mildbro Black Blast, Afirca Ice Jack dan lain sebagainya.

“Rokok ilegal yang menggunakan merek ini” banyak beredar di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, “kata Arif.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *